01679 2200205 4500001002100000005001500021020001800036035002000054082000800074084001400082110002700096245009300123250001200216260005700228300004700285520109300332650001601425990001601441990001601457INLIS00000000000298420240222020636 a979-461-179-4 a0010-0224000172 a811 a811 YAY p0 aYayasan Obor Indonesia1 aPuisi Buat Rakyat Indonesia :bKumpulan Puisi 25 Penyair Korea /cYayasan Obor Indonesia apertama aJakarta :bKLTI dengan Yayasan Obor Indonesia,c2007 axxii + 228 hlm :bilustrasi ;c13,5x22,5cm aalam menyatakan jati dirinya, bangsa Korea mengacu ke citraan pagi hari yang tenang - berbeda, misalnya, dari bangsa Jepang yang selalu memandang matahari sebagai lambang keberadaannya. Citraan pagi yang tenang, matahari, maupun tirai bambu -yang melambangkan kebudayaan Cina - pada dasarnya mengacu ke alam. Dan ternyata memang alam yang menjadi tumpuan gagasan dan ungkapan yang kita rasakan dan pahami ketika membaca puisi Korea, yang klasik maupun yang modern. Sajak-sajak yang dipilih dlam buku ini umumnya ditulis berdasarkan teknik penulisan demikian. Ini menunjukkan adanya garis yang jelas antara yang klasik dan modern - tidak hanya dalam perkembangan puisi Korea tetapi juga puisi Jepang dan Cina. Namun, alam yang menyatu dalam diri manusia itu telah menghasilkan kesan dan pandangan hidup yang berbeda, tentu karena watak dan perkembangan sosial dan budaya yang berlain-lainan pula. Kesan selintas menunjukkan bahwa puisi Korea modern masih menunjukkan koitan yang erat antara alam dan manusia, lebih dari yang mungkin telah berlangsung di Cing dan Jepang. 4aKesusatraan aKS 2009 214 aKS 2009 215